Demam

Demam…., sekarang ini anak-anak muda indonesia banyak yang terkena “demam”. Bukan demam karena digigit nyamuk demam berdarah apalagi demam karena Flu burung, tapi demam film ayat-ayat cinta. Mungkin tulisan ini telat ditulis setelah beberapa minggu hingar bingar film ayat ayat cinta dikarenakan gw sendiri telat jg bisa menonton film tersebut.

Ketika launching pertamakali di bioskop nya om SuDwikatMono, gw harus ngantri 3 hari berturut-turut, hasilnya 3 hari juga gw harus pulang tanpa hasil. Yang bikin gw gatot nonton Fahri karena ngantrinya puaanjanggggg buanget belum lagi gw harus bersaing dengan orang-orang dalam yang jadi “malaikat” penolong bagi orang-orang yang males ngantri alias orang- orang tersebut adalah calo bin makelar tiket. Apalagi persaingan di baris antrian masih berjibaku dengan manusia yang tidak kenal budaya ngantri, maen serobot atau nyelonong langsung ke depan jendela tiket. Tetapi didorong rasa ingin mempunyai jiwa mulia seperti Fahri aku dan banyak pengantri lainnya tetap sabar mengantri. Karena niatnya cuma nonton saat Nomat (maklum kantong lagi cekak), gw terpaksa mengurungkan sementara waktu untuk tidak nonton film fenomenal tesebut apalagi tugas dari kantor sudah memanggil untuk job rutin ke lapangan di sebuah pulau terpencil di ujung paling timur pulau Madura. Selama dilokasi kerjaan ada godaan datang untuk coba mendowload film tersebut dari dunia maya, setelah beberapa kali mencoba download tetapi lagi-lagi gagal, ada aja gangguan yang menyebabkan gw gagal melihat film tersebut. Dari internetnya yang ngadat lah, salah mendownload film lah (gara-gara ada orang yang nebeng tenar dengan bikin film dengan judul ayat-ayat cinta) sampai ada teman gw yang dengan enaknya meng-Close film yang lagi gw down load.

Godaan kembali datang saat ipar gw telephone “ntar pulang lewat jakarta mampir yach, ini Mimi bawain oleh-oleh dari yogya sekalian ada CD Ayat-ayat cinta. Wach bakal asyik nich pulang nanti bisa nonton gratis di laptop gw yang baru. Tetapi karena tiket pesawat SBY-JKT laris manis karena peak season, terpaksa pulang dengan last flight dan gw tidak bisa mampir kerumah ipar gw di daerah Pancoran. yach lagi-lagi gagal dech tetapi dirumah bini gw bilang “Pa, qta nonton dibioskop aja lebih halal daripada nonton di CD bajakan.

Alhamdulilah, akhirnya kesampaian juga gw dan bini gw nonton film ayat-ayat cinta dengan duit noban gw duduk dibarisan paling belakang tapi ups… akhirnya gw malah dibuat kecewa setelah filn yang sudah lama ingin gw tonton ternyata jauh sekali dari apa yang gw bayangkan seperti yang gw baca di novelnya. Film itu memang bagus (karena gw aja tidak bs bikin film kaya gini) tapi kekecewaan gw terlebih dari jauhnya “Jiwa” dari film ini seandainya film ini memang mengadopsi dari novel aslinya, sebuah novel islami. Jiwa dari novel ini adalah dakwah yang dibangun berdasarkan syariah dan aqidah dengan dibalut romantisme dan toleransi tetapi Film yang gw tonton ini lebih menonjolkan poligami, dimana kehidupan Fahri seorang mahasiswa indonesia dimesir yang dicintai banyak gadis. Film ini tidak menceritakan secara detail bagaimana bisa seorang Fahri bisa dicintai banyak gadis. Disinilah letak perbedaan antara film dengan novel asli nya. Karena Fahri yang di novel begitu rinci dan jelas digambarkan sebagai pemuda yang sholeh karena ke sholehan Fahri itulah banyak gadis yang mencintainya juga bagaimana dia menghadapi cobaan hidupnya dengan tetap berpegang teguh atas ajaran agamanya.

Terlepas dari itu semua gw angkat topi buat crew film ayat-ayat cinta yang dengan susah payah berhasil memfilmkan novel yang best seller ini dan memang hasilnya tidak mengecewakan begitu buanyak anak muda, bahkan ibu ibu pengajian yang rela mengantri untuk membeli tiket film ini wong sampai RI-1 dan RI-2 diantara banyak kesibukanya aja ikut menonton film ini juga. Tetapi gw berharap Mas Hanung dan teman teman nya bisa dengan jujur mau membuka diri untuk kritik dan masukan dari orang orang yang kecewa atas film yang anda buat. Dengan menerima kritik yang membangun gw yakin mas Hanung dan teman temannya akan jauh lebih hebat dan sukses kelak dalam membuat suatu film terlebih lagi film islami.

Tidak ada sesuatu pun ciptaan anak manusia yang sempurna karena kesempurnaan itu hanya milik Tuhan, termasuk tulisan perdana gw di blog ini. Kritik dan saran gw tunggu yach di blog gw di blog tangankata

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: